Kita Terlalu Sibuk Mengejar, Sampai Lupa Caranya Menikmati
Belakangan ini aku mulai sadar, ternyata ada banyak hal kecil dalam hidup yang sering aku lewatkan begitu aja tanpa aku sadari.

Belakangan ini aku mulai sadar, ternyata ada banyak hal kecil dalam hidup yang sering aku lewatkan begitu aja tanpa aku sadari.
Bukan karena merasa hal-hal yang kulewati itu gak penting, akan tetapi, aku cuman terlalu terbiasa saja dengannya.
Bangun pagi dengan rutinitas yang sama, Bisa makan sesuatu yang aku suka, punya waktu untuk beristirahat. Berbicara dengan orang-orang sekitar. Menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya terus aku tunda.
kalau dipikir-pikir, semuanya terdengar biasa saja. Karena terlalu biasa, kita jadi jarang menganggapnya kurang berarti.
Kita lebih mudah melihat sesuatu yang belum kita punya daripada menyadari apa yang sebenernya sudah ada.
Kadang kita berpikir bahwa kebahagiaan baru akan datang ketika berhasil mencapai sesuatu yang besar. Ketika pekerjaan selesai. Ketika target tercapai. Ketika keadaan menjadi lebih baik.
Padahal, mungkin kebahagiaan tidak selalu menunggu kita di garis akhir.
Kadang ia ada dalam secangkir kopi di pagi hari. Dalam perjalanan pulang setelah hari yang melelahkan. Dalam percakapan sederhana dengan teman. Atau bahkan dalam perasaan lega setelah akhirnya menyelesaikan sesuatu yang selama berhari-hari kita hindari.
Aku sendiri mulai belajar mengapresiasi hal-hal kecil dari sesuatu yang sangat sederhana: mengakui usahaku sendiri.
Bukan hanya hasilnya.
Ada banyak hal yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi sebenarnya membutuhkan usaha besar bagi diri kita sendiri.
Memberanikan diri memulai sesuatu.
Mengakui kesalahan.
Melawan rasa malas.
Tetap mengerjakan sesuatu ketika sedang tidak bersemangat.
Atau sekadar bertahan melewati hari yang terasa berat.
Dulu aku sering menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan. Tidak ada alasan untuk merasa bangga.
Tapi semakin ke sini, aku mulai berpikir berbeda.
Mungkin kita tidak selalu membutuhkan pencapaian besar untuk mengatakan kepada diri sendiri, “Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini.”
Mengapresiasi diri bukan berarti merasa paling hebat atau menutup mata terhadap kekurangan.
Justru sebaliknya.
Kita mengakui bahwa masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki, sambil tetap menghargai perjalanan yang sudah kita lalui.
Dan ketika kita mulai terbiasa menghargai diri sendiri, tanpa sadar kita juga menjadi lebih peka terhadap usaha orang lain.
Ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “kerja bagus”, atau “aku menghargai apa yang kamu lakukan” mungkin terlihat kecil bagi kita.
Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar arti kalimat itu bagi seseorang.
Mungkin ia sedang merasa tidak cukup baik.
Mungkin ia sedang lelah.
Atau mungkin ia hanya membutuhkan satu alasan kecil untuk percaya bahwa apa yang dilakukannya tidak sia-sia.
Karena itu, akhir-akhir ini aku mencoba menjadikan apresiasi sebagai kebiasaan.
Tidak harus dengan sesuatu yang besar.
Kadang cukup dengan mengingat satu hal yang berhasil kulakukan hari ini.
Kadang dengan mengucapkan terima kasih kepada seseorang.
Kadang hanya dengan berhenti sebentar dan menyadari bahwa aku sudah berjalan cukup jauh.
Hidup mungkin akan selalu terasa cepat. Akan selalu ada target berikutnya, masalah berikutnya, dan sesuatu yang ingin kita kejar.
Tapi mungkin sesekali kita perlu berhenti.
Melihat ke belakang.
Dan mengatakan kepada diri sendiri:
“Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini.”
Karena pada akhirnya, perjalanan hidup tidak hanya dibentuk oleh pencapaian-pencapaian besar. Ia juga dibentuk oleh ratusan momen kecil yang sering kita anggap biasa.
Dan mungkin, kita cuman perlu lebih sering menyadarinya bahwa kadang hidup terasa cukup justru karena hal-hal kecil yang hampir kita lewatkan
